Sabtu, 28 November 2015

Kulawarga - tugas KMO 4

 “ setiap hari aku berdoa kepada tuhan, agar aku mampu merawat kedua anak ku dengan baik”.
            Mungkin untuk sebagian orang yang melihat kehidupanku, mereka akan berpendapat bahwa aku mempunyai kehidupan yang bahagia layaknya orang-orang pada umumnya, memiliki 2 orang anak yang lucu-lucu serta suami yang baik. Namun ada sesuatu yang sampai saat ini tidak pernah ku ungkapkan kepada siapapun yang mungkin akan aku simpan selamanya sebagai kenangan menakutkan untuk hidupku sehingga aku tetap mampu bertahan merawat kedua anakku dan menjadi ibu serta istri yang baik bagi anak serta suamiku. Hingga suatu hari anak pertamaku bertanya “ bunda, nenek itu seperti apa?”  aku begitu terkejut mendengar pertanyaan itu dan hanya bisa menjawab “ nenek ?? loh, bukankah baru akhir pekan kemarin kita berkunjung kerumah nenek?? Tanyaku untuk mempertegas pertanyaan anakku. “ bukan bunda, yang aku maksud itu nenek, ibunya bunda.” Seperti terkena hujan badai disiang hari yang terik aku hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan itu. “ bunda , bunda kok diam. Nenek dimana?? Kenapa kita tidak pernah datang kesana? “ saat itu rasanya hatiku terasa begitu sakit dan aku hanya mampu menjawab. “ nenek sakit dan menjalankan pengobatan diluar negeri jadi kita tidak bisa berkunjung,” sambil mengusap kepala anakku dan menyuruhnya kembali bermain. Anakku hanya menatapku mencoba mengerti apa yang aku ucapkan dan dia tersenyum lebar dan berlari kehalaman belakang sesaat dia menoleh dan berkata “ bunda , tolong sampaikan pada nenek , aku dan bian ingin bertemu dan mengenalnya. “ aku begitu terharu mendengar ini . hidupku ini bagai potongan puzzel yang walau terus disatukan menjadi satu gambar utuh namun tetap tidak bisa menjadi utuh karena ada jejak-jejak retakan yang tidak akan pernah hilang. Dan disinilah kisahku dimulai , kisah yang aku ceritakan mungkin hanya kepada suamiku seorang, seseorang yang membantu menyelamatkan hidupku.
            Namaku winda, aku anak ke enam dari delapan bersaudara. Aku ingat betul bagaimana kisah masa kecil ku dan kakak-kakak ku, aku ingat siapa ayahku, aku tahu bagaimana ibu begitu mencintai ayahku. Dan aku ingat bagaimana semua awal ini bermula. Sebuah cerita yang aku coba cari tahu kebenarannya. Yang membuatku begitu bersedih sebuah cerita yang terlupa namun akan aku coba untuk kusatukan seperti potongan potangan puzzel satu persatu aku tempelkan sehingga bisa menjadi sebuah gambar yang suatu saat nanti akan aku tunjukan kepada kedua putri kecilku. Tentang hidupku, siapa ayah dan ibuku. Dan tentang bagaimana kakak-kakak ku menghilang satu persatu.
            Hari ini aku berkunjung kerumah paman, seperti biasa dia selalu menanyakan tentang kabarku. Apakah aku sehat dan makan dengan teratur, “ winda, bagaimana kabar mu?, sudah makan?? Bagaimana anak-anakmu?.” Aku tersenyum simpul mendengar pertanyaan pamanku, yang merupakan adik terakhir ibuku. “ om, boleh aku bertanya “ pamanku hanya menoleh dan melanjutkan permainan gitarnya dan menjawab, “ silahkan,”
“bagaimana mereka bertemu?” paman menghentikan permainan gitarnya dan berkata “sudahlah, pikirkan yang bahagia saja. Dan jalani hidupmu.” Tetapi aku memaksa “ ini untuk masa depanku”.  Paman hanya menghela nafas panjang lalu menatap dengan sedih. “ mereka sebelumnya tidak saling kenal, mereka mempunyai kehidupan masing-masing, dan rahma sudah hampir menikah dengan seorang dokter. Namun tiba-tiba muncul baskoro ditengah hubungan mereka, tidak mengerti dengan yang terjadi. Rahma memutuskan hubungan dengan pacarnya dan menikah dengan baskoro. Hubungan ini begitu ditentang, namun karena takut rahma bertindak jauh akhirnya pernikahan ini disetujui, padahal saat itu rahma baru saja lulus SMA,tapi tidak ada yang bisa bertindak apa-apa. Karena pada awalnya baskara seorang pria sopan dan baik.” Paman menghentikan ceritanya , aku melihat matanya penuh dengan kesedihan mendalam. “pulanglah, lain kali kita lanjutkan pembicaraan ini.” Aku yang sebenarnya enggan untuk pulang terpaksa menuruti keinginan paman, akupun segera pamit pulang, disepanjang perjalanan aku memikirkan banyak hal. Aku takut dengan semua kemungkinan yang terjadi, aku takut dengan kebenaran cerita yang hilang dari ingatanku. Sesampainya dirumah aku langsung menuju kamar anak-anak dan melihat mereka sudah tertidur , melihat mereka seakan aku kembali melihat kilasan gambar bagaimana masa kecilku penuh dengan drama yang di sutradarai oleh ayah ku sendiri, bagaimana kami berdelapan dilarang berbicara kepada orang-orang bahwa seharian ini kami belum makan, dimana kami dilarang untuk tidur dan mendengarkan ayah kami berbicara dari pagi hingga pagi. Tanpa sadar air mataku menetes di pipiku, “ apa yang sedang kamu pikirkan?” tiba-tiba suamiku ada disampingku sambil memegang pundakku. Aku terkejut dan menghapus air mataku. “ sudahlah anggap itu sebagai nightmare, dan sekarang kamu sudah terbangun hanya ada aku dan kedua putri kita.” Ujar suamiku sambil menutup pintu kamar anak-anak dan membawaku ke dapur untuk membuatkan secangkir teh hangat. “ tenanglah, ini memang tidak mudah ,tapi bukankah kita bisa melalui ini hampir enam tahun?” aku hanya tersenyum menunjukkan bahwa dia benar “ ini tidak mudah tapi semua sudah kulalui dengan perlahan.”
            Pagi ini rutinitas setiap pagi terjadi aku bangun pagi, menyiapkan semua keperluan anak-anak dan suamiku, mengantar kesekolah, dan membayar semua tagihan yang ada. Setelah dari sekolah aku tiba dipersimpangan menuju rumah paman, tiba-tiba aku melihat seorang wanita paruh baya sedang duduk dijalanan sambil berbicara sendiri, kemudian wanita itu tertawa. Aku hanya mampu menatap dari kejauhan ada rasa gamang dalam hatiku. Tidak lama kemudian paman menelepon, “ kamu, dimana?,bisa kita bicara disini ada yang ingin kami bicarakan.” Lalu aku kembali bertanya, “kami?” , dan ternyata dirumah paman ada tante yang merupakan adik ibuku. Aku bergegas memutar arah mobil sambil tetap menatap ke belakang melalui spion, melihat wanita tua itu dan melaju menjauh. Tiba dirumah paman, tante menyapa dan menanyakan keadaan aku dan suamiku “ ya semua seperti yang tante lihat, baik dan terkendali, sepertinya pengobatan kemarin yang aku jalani berjalan baik.”  Tante terlihat senang mendengar jawaban dariku, “ lalu bagaimana dengan jesy dan dion?” paman menjawab “mereka baik dengan kehidupannya jesy saat ini bekerja disebuah restoran dan dion memilih tinggal di pondok pesantren daerah jawa timur, saya dengar dia sudah menikah namun keluarga tidak diijinkan untuk bertemu saat ini, demi kebaikan dion” akupun mulai bertanya tentang kelanjutan cerita kemarin, karena aku begitu ingin mengetahui jawaban dari semua pertanyaan ini. Akhirnya tante mulai bercerita tentang semua yang aku lupakan.
            “seandainya tidak ada baskara, ah bukan seandainya diana tidak pernah mempertemukan rahma dengan baskara, tidak akan seperti ini. Rahma akan ada disini bercerita tentang semua hal, bagaimana dia memenangkan perlombaan tiga bahasa, bagaimana pandainya dia menari balet, bagaimana para pria mencoba dekat karena kecantikan diwajahnya.” Ucap tante dengan perasaan yang penuh emosi. Paman hanya memegang pundak tante dan berkata “ sudahlah ini memang takdir, kita berdoa saja semoga rahma dan baskara bisa di maafkan,” lalu tante melanjutkan ceritanya “ baskara bukan manusia, kalau dia manusia kenapa dia bisa bersikap ekstrim seperti itu?? Dia pernah berkata “ saya tidak percaya kepada dokter, karena dokter semuanya penjahat yang ingin membunuh kita.” Mana ada orang yang tidak percaya dokter hanya karena hal sepele, dia benci dokter karena mantan pacar rahma dulu adalah seorang dokter. Hingga semua anaknya saat sakit tidak pernah dibawa kedokter.”  Aku terkejut mendengar cerita itu. Kemudian paman meneruskan perkataan tante, “ tidak hanya itu baskara dan rahma tidak pernah direstui saat menikah, karena kami tahu ada yang tidak beres dengan baskara. Walaupun dia salah satu tokoh yang berpengaruh dalam pembebasan irian barat saat itu. Dan dia merupakan salah satu orang terkaya di bangkalan madura. Tapi itu tidak membuat kami lantas menyukai baskara, kami berusaha mencegah tapi apa daya rahma begitu mencintai baskara hingga mampu melawan kami. Diawal pernikahan mereka, semua berjalan normal hingga mereka mempunyai anak, keanehan itu mulai terjadi. Rahma mulai jarang pulang kerumah, dan kami mulai sulit bertemu rahma. Baskara mulai menanamkan doktrin terhadap rahma. Sehingga rahma terbawa ucapan baskara”. “Pernah suatu ketika ada acara keluarga baskara dan rahma datang bersama anak mereka”,tante mulai melanjutkan pembicaraannya “ tante melihat baskara menyuruh anaknya membeli rokok “ hei, kamu beli rokok untuk saya CEPAT!!” kata cepat disini bukan berarti buru-buru tapi lebih ke lari, jika anaknya tidak lari tidak segan-segan dia marah, kemuadian anaknya datang dan memberi rokok kepada baskara, dan kamu tahu apa yang membuat tante terkejut?” aku hanya mampu menggelengkan kepala atas pertanyaan tante, dan jawaban tante membuatku shock, orang seperti apa baskara ini.
www.ernawatililys.com

3 komentar:

  1. MasyaAllah keren kak el nih mau dibuat novel yaa kak ? waaah lanjutkan kak semangaaat ^_^

    BalasHapus
  2. Bikin novel ya, mbak El... :) Mencerminkan penulisnya yang memiliki daya imajinasi yang tinggi :)

    BalasHapus
  3. Ini novel yang sudah dibangun dengan konflik. Bagus ceritanya.

    Namun, di Kmo lagi fokus ke nonfiksi, hmmm adakah naskah nonfiksi?

    BalasHapus