“ setiap hari aku berdoa kepada tuhan, agar
aku mampu merawat kedua anak ku dengan baik”.
Mungkin untuk sebagian orang yang
melihat kehidupanku, mereka akan berpendapat bahwa aku mempunyai kehidupan yang
bahagia layaknya orang-orang pada umumnya, memiliki 2 orang anak yang lucu-lucu
serta suami yang baik. Namun ada sesuatu yang sampai saat ini tidak pernah ku
ungkapkan kepada siapapun yang mungkin akan aku simpan selamanya sebagai
kenangan menakutkan untuk hidupku sehingga aku tetap mampu bertahan merawat
kedua anakku dan menjadi ibu serta istri yang baik bagi anak serta suamiku.
Hingga suatu hari anak pertamaku bertanya “ bunda, nenek itu seperti apa?” aku begitu terkejut mendengar pertanyaan itu
dan hanya bisa menjawab “ nenek ?? loh, bukankah baru akhir pekan kemarin kita
berkunjung kerumah nenek?? Tanyaku untuk mempertegas pertanyaan anakku. “ bukan
bunda, yang aku maksud itu nenek, ibunya bunda.” Seperti terkena hujan badai
disiang hari yang terik aku hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan itu. “
bunda , bunda kok diam. Nenek dimana?? Kenapa kita tidak pernah datang kesana?
“ saat itu rasanya hatiku terasa begitu sakit dan aku hanya mampu menjawab. “
nenek sakit dan menjalankan pengobatan diluar negeri jadi kita tidak bisa
berkunjung,” sambil mengusap kepala anakku dan menyuruhnya kembali bermain.
Anakku hanya menatapku mencoba mengerti apa yang aku ucapkan dan dia tersenyum
lebar dan berlari kehalaman belakang sesaat dia menoleh dan berkata “ bunda ,
tolong sampaikan pada nenek , aku dan bian ingin bertemu dan mengenalnya. “ aku
begitu terharu mendengar ini . hidupku ini bagai potongan puzzel yang walau
terus disatukan menjadi satu gambar utuh namun tetap tidak bisa menjadi utuh
karena ada jejak-jejak retakan yang tidak akan pernah hilang. Dan disinilah
kisahku dimulai , kisah yang aku ceritakan mungkin hanya kepada suamiku
seorang, seseorang yang membantu menyelamatkan hidupku.
Namaku winda, aku anak ke enam dari
delapan bersaudara. Aku ingat betul bagaimana kisah masa kecil ku dan
kakak-kakak ku, aku ingat siapa ayahku, aku tahu bagaimana ibu begitu mencintai
ayahku. Dan aku ingat bagaimana semua awal ini bermula. Sebuah cerita yang aku
coba cari tahu kebenarannya. Yang membuatku begitu bersedih sebuah cerita yang
terlupa namun akan aku coba untuk kusatukan seperti potongan potangan puzzel
satu persatu aku tempelkan sehingga bisa menjadi sebuah gambar yang suatu saat
nanti akan aku tunjukan kepada kedua putri kecilku. Tentang hidupku, siapa ayah
dan ibuku. Dan tentang bagaimana kakak-kakak ku menghilang satu persatu.
Hari ini aku berkunjung kerumah
paman, seperti biasa dia selalu menanyakan tentang kabarku. Apakah aku sehat
dan makan dengan teratur, “ winda, bagaimana kabar mu?, sudah makan?? Bagaimana
anak-anakmu?.” Aku tersenyum simpul mendengar pertanyaan pamanku, yang
merupakan adik terakhir ibuku. “ om, boleh aku bertanya “ pamanku hanya menoleh
dan melanjutkan permainan gitarnya dan menjawab, “ silahkan,”
“bagaimana
mereka bertemu?” paman menghentikan permainan gitarnya dan berkata “sudahlah,
pikirkan yang bahagia saja. Dan jalani hidupmu.” Tetapi aku memaksa “ ini untuk
masa depanku”. Paman hanya menghela
nafas panjang lalu menatap dengan sedih. “ mereka sebelumnya tidak saling
kenal, mereka mempunyai kehidupan masing-masing, dan rahma sudah hampir menikah
dengan seorang dokter. Namun tiba-tiba muncul baskoro ditengah hubungan mereka,
tidak mengerti dengan yang terjadi. Rahma memutuskan hubungan dengan pacarnya
dan menikah dengan baskoro. Hubungan ini begitu ditentang, namun karena takut
rahma bertindak jauh akhirnya pernikahan ini disetujui, padahal saat itu rahma
baru saja lulus SMA,tapi tidak ada yang bisa bertindak apa-apa. Karena pada
awalnya baskara seorang pria sopan dan baik.” Paman menghentikan ceritanya ,
aku melihat matanya penuh dengan kesedihan mendalam. “pulanglah, lain kali kita
lanjutkan pembicaraan ini.” Aku yang sebenarnya enggan untuk pulang terpaksa
menuruti keinginan paman, akupun segera pamit pulang, disepanjang perjalanan
aku memikirkan banyak hal. Aku takut dengan semua kemungkinan yang terjadi, aku
takut dengan kebenaran cerita yang hilang dari ingatanku. Sesampainya dirumah
aku langsung menuju kamar anak-anak dan melihat mereka sudah tertidur , melihat
mereka seakan aku kembali melihat kilasan gambar bagaimana masa kecilku penuh
dengan drama yang di sutradarai oleh ayah ku sendiri, bagaimana kami berdelapan
dilarang berbicara kepada orang-orang bahwa seharian ini kami belum makan,
dimana kami dilarang untuk tidur dan mendengarkan ayah kami berbicara dari pagi
hingga pagi. Tanpa sadar air mataku menetes di pipiku, “ apa yang sedang kamu
pikirkan?” tiba-tiba suamiku ada disampingku sambil memegang pundakku. Aku
terkejut dan menghapus air mataku. “ sudahlah anggap itu sebagai nightmare, dan
sekarang kamu sudah terbangun hanya ada aku dan kedua putri kita.” Ujar suamiku
sambil menutup pintu kamar anak-anak dan membawaku ke dapur untuk membuatkan
secangkir teh hangat. “ tenanglah, ini memang tidak mudah ,tapi bukankah kita
bisa melalui ini hampir enam tahun?” aku hanya tersenyum menunjukkan bahwa dia
benar “ ini tidak mudah tapi semua sudah kulalui dengan perlahan.”
Pagi ini rutinitas setiap pagi
terjadi aku bangun pagi, menyiapkan semua keperluan anak-anak dan suamiku,
mengantar kesekolah, dan membayar semua tagihan yang ada. Setelah dari sekolah
aku tiba dipersimpangan menuju rumah paman, tiba-tiba aku melihat seorang
wanita paruh baya sedang duduk dijalanan sambil berbicara sendiri, kemudian
wanita itu tertawa. Aku hanya mampu menatap dari kejauhan ada rasa gamang dalam
hatiku. Tidak lama kemudian paman menelepon, “ kamu, dimana?,bisa kita bicara
disini ada yang ingin kami bicarakan.” Lalu aku kembali bertanya, “kami?” , dan
ternyata dirumah paman ada tante yang merupakan adik ibuku. Aku bergegas
memutar arah mobil sambil tetap menatap ke belakang melalui spion, melihat
wanita tua itu dan melaju menjauh. Tiba dirumah paman, tante menyapa dan
menanyakan keadaan aku dan suamiku “ ya semua seperti yang tante lihat, baik
dan terkendali, sepertinya pengobatan kemarin yang aku jalani berjalan
baik.” Tante terlihat senang mendengar
jawaban dariku, “ lalu bagaimana dengan jesy dan dion?” paman menjawab “mereka
baik dengan kehidupannya jesy saat ini bekerja disebuah restoran dan dion
memilih tinggal di pondok pesantren daerah jawa timur, saya dengar dia sudah
menikah namun keluarga tidak diijinkan untuk bertemu saat ini, demi kebaikan
dion” akupun mulai bertanya tentang kelanjutan cerita kemarin, karena aku
begitu ingin mengetahui jawaban dari semua pertanyaan ini. Akhirnya tante mulai
bercerita tentang semua yang aku lupakan.
“seandainya tidak ada baskara, ah
bukan seandainya diana tidak pernah mempertemukan rahma dengan baskara, tidak
akan seperti ini. Rahma akan ada disini bercerita tentang semua hal, bagaimana
dia memenangkan perlombaan tiga bahasa, bagaimana pandainya dia menari balet,
bagaimana para pria mencoba dekat karena kecantikan diwajahnya.” Ucap tante
dengan perasaan yang penuh emosi. Paman hanya memegang pundak tante dan berkata
“ sudahlah ini memang takdir, kita berdoa saja semoga rahma dan baskara bisa di
maafkan,” lalu tante melanjutkan ceritanya “ baskara bukan manusia, kalau dia
manusia kenapa dia bisa bersikap ekstrim seperti itu?? Dia pernah berkata “ saya tidak percaya kepada dokter, karena
dokter semuanya penjahat yang ingin membunuh kita.” Mana ada orang yang
tidak percaya dokter hanya karena hal sepele, dia benci dokter karena mantan
pacar rahma dulu adalah seorang dokter. Hingga semua anaknya saat sakit tidak
pernah dibawa kedokter.” Aku terkejut
mendengar cerita itu. Kemudian paman meneruskan perkataan tante, “ tidak hanya
itu baskara dan rahma tidak pernah direstui saat menikah, karena kami tahu ada
yang tidak beres dengan baskara. Walaupun dia salah satu tokoh yang berpengaruh
dalam pembebasan irian barat saat itu. Dan dia merupakan salah satu orang
terkaya di bangkalan madura. Tapi itu tidak membuat kami lantas menyukai
baskara, kami berusaha mencegah tapi apa daya rahma begitu mencintai baskara
hingga mampu melawan kami. Diawal pernikahan mereka, semua berjalan normal
hingga mereka mempunyai anak, keanehan itu mulai terjadi. Rahma mulai jarang
pulang kerumah, dan kami mulai sulit bertemu rahma. Baskara mulai menanamkan
doktrin terhadap rahma. Sehingga rahma terbawa ucapan baskara”. “Pernah suatu
ketika ada acara keluarga baskara dan rahma datang bersama anak mereka”,tante
mulai melanjutkan pembicaraannya “ tante melihat baskara menyuruh anaknya
membeli rokok “ hei, kamu beli rokok
untuk saya CEPAT!!” kata cepat disini bukan berarti buru-buru tapi lebih ke
lari, jika anaknya tidak lari tidak segan-segan dia marah, kemuadian anaknya
datang dan memberi rokok kepada baskara, dan kamu tahu apa yang membuat tante
terkejut?” aku hanya mampu menggelengkan kepala atas pertanyaan tante, dan
jawaban tante membuatku shock, orang seperti apa baskara ini.
www.ernawatililys.com