Kepiting kecil itu tahu betul siapa dirinya. Walau umurnya hanya sedikit dari usia pantai tempat dia lahir, dia telah mengenal baik bagaimana jalan pikirannya. Benda-benda yang disuka, hal-hal yang diinginkan, pantai mana yang ingin dituju, rumah seperti apa yang akan dibuat nanti. Kepiting kecil selalu menuliskan mimpi-mimpinya di atas pasir pantai dengan capitnya. Jika hilang tersapu air pasang, kepiting kecil akan menuliskannya kembali.
Sayangnya, ayah ibu kepiting kecil terlalu sibuk untuk mendengarkan mimpi-mimpi tersebut. Begitu juga teman-teman lainnya, mereka selalu menganggap kata-kata kepiting kecil hanyalah mimpi yang remeh dari usia yang belum dewasa. Tidak ada yang mau mendengarkan kepiting kecil.
"Tidak perlu mengerti, setidaknya dengarkan dulu aku", lirih kepiting kecil.
Waktu demi waktu, kepiting kecil hanya mampu menimbun kekecewaan dan menyimpan rasa itu di dalam hati. Kepiting kecil ingin sekali menemukan tempat dimana dia dapat menunjukkan dirinya yang sesungguhnya. Dimana dia mendapat kesempatan emas itu. Dimana dia didengarkan dan dipercaya.
Satu hal yang kepiting kecil yakini, dia bisa mempercayai pasir pantai. Pasir pantai selalu mengizinkan kepiting kecil mengutarakan cita-citanya. Pasir pantai selalu sabar menunggu kepiting kecil menyelesaikan tiap cerita mimpinya. Pasir pantai selalu setia menjadi pendengar segala macam rencana masa depannya. Pasir pantai selalu ada disana untuknya.
Maka setiap hari kepiting kecil pun meluangkan waktunya untuk menghampiri pasir pantai. Satu torehan mimpi, dua torehan mimpi, tiga.. lima.. sepuluh.. seratus.. seribu torehan pun akhirnya tertulis. Semua memenuhi pantai tempat kepiting kecil tinggal.
Pasir pantai telah menjadi cermin bagi kepiting kecil. Pasir pantai telah menjadi pengingat bagi kepiting kecil atas mimpi-mimpinya. Pasir pantai membantu kepiting kecil untuk berjiwa kuat, melindungi mimpi-mimpinya. Berjuang walau perlahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar