Selasa, 08 Mei 2012

jadilah manusia


masalah hati membuat kita tenggelam sendirirasanya ingin marah, ingin menyalahkan,tapi siapakah keadaan itu sehingga memang bisa dipersalahkan?
akhirnya hanya bergelut sendiri
mengutip sebuah artikel dari penulis favorit saya Samuel Muliasemoga bisa meringankan pemberat yang terlanjur menggantung di hati :)
dari Rubrik Parodi, Kompas, Minggu 28 Maret 2010
tersebutlah status fesbuk seseorang, teman dari penulis,"kita harus belajar bahwa kita tidak dapat memaksa orang lain bersikap baik kepada kita, tetapi kita bisa memilih bersikap baik kepada mereka. kita harus belajar, sebaik-baiknya orang lain, mereka pasti pernah melukai perasaan kita, dan untuk itu kita harus memaafkan. kita harus belajar mengampuni diri sendiri dan orang lain. itu tidak saja membebaskan kita dari rasa bersalah, tapi juga memperbesar hati dan jiwa kita"
hmm.. rasanya nasihat seperti ini umum ya,dengan segala kesadaran kita tahu 100% sikap seperti itu jalan yang terbaik.
saya juga selalu mencoba dengan gagah berani dan lemah penakut untuk hidup dengan sikap seperti itu
namun..
saya tergugah dengan kelemahan manusia yang diungkap oleh penulis,
sebagai respon untuk status fesbuk temannya itu.
kelemahan itu terlihat begitu meringankan hati :)
"kamu dan aku adalah gabungan negatif dan positif. jadi negatif mau dipositifkan itu tidak mungkin. jadi hiduplah dengan kenegatifanmu. itu mengapa kamu disebut manusia. jadi tidak memaafkan itu manusiawi. dan saya bahagia sekarang ini karena di beberapa situasi saya tidak memaafkan.nanti kamu lelah batinnya karena filosofi positif itu sepertinya mulia, padahal tidak selalu demikian."
dan teman itu membalas,"iya kadang hati kecil suka porak poranda karena konsekuensi itu, Mas"
yah, saya pernah lamaaaaa sekali tenggelam dalam keadaan "tidak memaafkan" itu.
dan baru saya sadari sekarang, saya bukan lelah karena tidak memaafkan,
tapi lelah karena terus menampik rasa tidak memaafkan itu.
saya telah berbohong, munafik dengan perasaaan itu sendiri :)
seharusnya waktu itu saya jujur saja kepada dunia, kepada lingkungan, kepada diri sendiri. buat saya orang itu salah, buat saya orang itu melukai saya, bukannya sok mampu memaafkan. karena nanti akan datang waktunya saya benar2 bisa tersenyum bertemu si pembuat masalah itu. dimana saya bisa memaafkan, dimana si negatif telah pergi dan diisi oleh sikap positif yang ternyata luar biasa berat itu.
dan satu lagi kutipan dari artikel tadi.tersebutlah status fesbuk teman si penulis,"...yang sabar yach, belum rezekimu..."
penulis mengatakan pada temannya, itu salah.tidak mendapatkan sesuatu itu juga sebuah rezeki. ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut. jadi yang kelihatannya positif itu tak semata-mata akan positif hasilnya.
selama ini kita terpaku dengan pemikiran "belum rezeki".
nah, bagaimana kalau memang kegagalan itu pada kenyataannya merupakan rezeki yang telah diberikan kepada kita, karena Yang Maha Baik telah melindungi kita dari sesuatu yang menanti di ujung sana.
sebuah karunia yang sangaaaaaaaaaat baik :)
ya ini hanya masukan untuk yang pernah merasa gagal, terluka, dan semacamnya.kita masih muda, jangan takut untuk tertawa dan jangan malu untuk menangis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar